A.
1. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kartono
(2008) yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, temperamen,
watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi
dengan orang lain.
Thoha
(2010) juga mengatakan tentang definisi dari gaya kepemimpinan, dimana gaya
kepemimpinan adalah norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang
tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain atau bawahan.
Robbins
(2003) juga memberikan pengertian kepemimpinan dalam organisasi, yaitu
merupakan kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah pencapaian tujuan. Jadi,
secara umum dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kemampuan yang
dimiliki oleh seseorang dalam memimpin bawahannya dalam rangka mensukseskan
tujuan organisasi.
Menurut
Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain
untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan
memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono
(2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh
satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang
membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance
induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau
pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk
kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari
beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan
kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan
tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus
dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi
atau kelompok.
2. JENIS – JENIS KEPEMIMPINAN
- Koersif
Jenis kepemimpinan ini bisa juga
disebut dengan kepemimpinan otoriter. Pada jenis ini seorang pemimpin akan
memerintah sesuai dengan kehendaknya sendiri tanpa ada orang yang boleh
membantah semua perintahnya. Menurut pendapatnya seorang bawahan hanya akan
bekerja jika diperintah. Selain itu pemimpin sudah menetukan ketentuan dari
awal sehingga pada saat pelaksanaan tidak ada rencana atau usulan dari
bawahannya. Pemimpin menjalankan semuannya sesuai dengan kehendak hati sang
pemimpin sehingga bawahan hanya tinggal menjalankan apa saja tugasnya.
Kelebihan
dari tipe ini adalah ketika sebuah organisasi atau kelompok membutuhkan pengambilan
keputusan secara mendadak dengan cepat dan tepat. Pengambilan keputusan akan
difikirkan secara matang tanpa dipengaruri oleh orang lain. Selain itu saat
pengambilan keputusan tidak perlu dengan adanya diskusi atau rapat dan terjadi
perdebatan dari berbagai pihak yang hanya akan membuat keputusan tidak segera
diambil. Sehingga pengambilan keputusan akan lebih cepat dan tepat jika diambil
oleh seorang pemimpin saja. Selain itu pemimpin dengan jenis ini akan
menumbuhkan sikap disiplin dari anggota atau bawahannya.
Selain
kelebihan jenis kepemimpinan ini juga memiliki kekurangan. Yaitu ketika
pelaksanaan tugas atau pelaksanaan program-program yang direncanakan bawahan
atau anggota kelompok tidak bisa berfikir kreatif dan akan mudah bosan. Hal ini
dikarenakan apa yang dikerjakan sudah ditentukan oleh pemimpinnya dan
bawahannya tidak boleh melakukan hal lain yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Selain itu tidak akan ada perubahan pada organisasi atau kelompok tersebut
karena pemimpinnya sulit untuk menerima perubahan dan usulan dari bawahan atau
anggotanya.
2.
Otoritatif
Jenis pemimpin ini bukan jenis
pemimpin yang oteriter, akan tetapi pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dengan
persetujuan dan kejelasan visi yang ia paparkan. Seorang pemimpinakan
menjadikan orang lain bergerak menuju sebuah visi yang sudah ditentukan dengan
bersemangat karena ia akan memberikan penghargaan yang pantas dan tujuan yang
jelas tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga untuk jangka panjang.
Pemimpin akan melakuakn perubahan-perubahan untuk mencapai visi dari organisasi
tersebut. Pemimpin jenis ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan mudah
mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama.
Otoratif juga memiliki
kekurangan yaitu saat organisasi yang dipimpinnya memerlukan keputusan yang
cepat dan tepat dalam keadaan yang mendesak. Pemimpin jenis ini akan terlalu
lama menentukan keputusan apa yang harus diambil. Selain itu pemimpin akan
mengalami kesulitan saat anggota atau bawahannya tidak setingkat dengannya.
Maksudnya para anggota atau bawahannya tidak mampu berfikir kreatif untuk
sebuah perubahan. Selain itu pemimpin akan mengalami kesulitan saat bersama
dengan tim ahli. Pemimpin ini akan dianggap terlalu angkuh atau sombong karena
selalu berfikir kedepan dan menganggap orang lain tidak memiliki kemampuan atau
pengetahuan seperti dirinya.
Kepemimpinan yang otoritatif
juga memiliki kelebihan yaitu ketika seorang pemimpin bertemu dengan
anggota yang sepadan. Maksudnya, anggota yang mampu diajak bekerjasama dan
mampu membuat perubahan-perubahan sesuai dengan kemajuan jaman.
3. Afiliatif
Kepemimpinan yang afiliatif
adalah seorang pemimpin yang memberikan jalan bagi anggotanya untuk
bertindak.Seorang pemimpin mengedepankan kebahagiaan dari anggotnya. Setiap
anggotanya memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan ide-ide untuk
kemajuan dari organisasi. Pemimpin akan sangat disenangi oleh semua bawahan
atau anggotanya karena dalam organisasi semua memiliki sifat terbuka.
Kelemahan dari teori ini
adalah anggotanya akan merasa ketergantungan kepada pemimpinnya, karena
pemimpin selalu membantu dan mengedepankan anggota atau bawahannya, pemimpin
ibarat sebatang lilin yang rela terbakar untuk menerangi sekelilinganya. Selain
itu apabila seseorang yang belum mengenal pemimpin tersebut akan menganggap
remeh pemimpinnya, karena seorang pemimpin selalu terbuka dengan masalah yang
dihadapi dan meminta pendapat dari bawahannya sehingga orang akan menanggap
bahwa pemimpinnya tidak memilii kemampuan yangn memadai.
Selain itu teori ini memiliki
kelebihan yaitu terjadi harmonisasi antara pemimpin dan bawahannya karena
adanya keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasinya dapat saling
bekerja sama dengan baik.Kelebihan yang paling utama adalah para anggotanya
merasa senang karena pemimpin memprioritaskan semua kegiatan dan tujuannya pada
anggotanya.
4. Demokatis
Kepemimpinan jenis ini
mengedepankan pendapat dari anggota untuk mengambil keputusan sehingga setiap
masalah diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Kepemimpinan ini
hampir sama dengan kepemimpinan afiliatif akan tetapi perbedaannya adalah
seorang pemimpin tidak mengedepankan kebahagiaan dari anggotannya akan tetapi
tujuan keterbukaan adalah untuk saling faham satu sama lain sehingga bisa
tercapai kerjasama. Pemimpin akan mengambil keputusan sesuai dengan suara
terbanyak dari anggota.
Kelemahan dari kepemimpinan
jenis ini adalah jika seorang pemimpin tidak dapat mengambil keputusan dengan
tepat dan terjadi kontra anatar anggota, selain itu apabila anggota tidak
sefaham atau memiliki carapandang yang berbeda dengan pemimpin sehingga pada
saat pengambilan keputusan tidak terjadi titik temu hanya saling berdebat satu
sama lain. Pengambilan keputusan juga tidak selalu sesuai karena suara
terbanyak belum tentu keputusan yang terbaik.Adakalanya suara terbanyak justru
menjerumuskan kehal-hal yang tidak baik.
Akan tetapi jenis kepemimpin
ini juga memiliki kelebihan yaitu terjadinya ketrebukaan antara anggota dan
pemimpin jadi semua masalah yang terjadi dalam organisasi diketahui oleh semua
anggota dan dapat turut menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga pemimpin juga
tidak terlalu terbebani akan masalah yang dihadapi karena ditanggung bersama.
5. Pacesetting
Jenis kepemimpinan ini
menyatakan bahwa seorang pemimpin membutuhkan atau menuntut kesempurnaan dari
anggotanya. Pemimpin membuat standar-standar yang harus dipenuhi oleh setiap
anggotanya agar tercapai apa yang diinginkan pemimpinnya. Seorang pemimpin akan
mengambil alih tugas dari anggotanya apabila apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan
standar yang ia tetapkan. Pemimpin tidak segan-segan untuk mengganti anggota
dengan orang lain jika ia merasa tidak cocok atau tidak memenuhi standar.
Kelemahan
dari jenis kepemimpinan ini adalah jika angotanya adalah orang yang tidak suka
berkembang atau sulit memotivasi diri maka anggota merasa tidak dianggap oleh
pemimpin dan menjadi malas untuk mengerjakan tugasnya dan pada akhirnya hanya
akan diganti dengan yang lain.Pemimpin memiliki banyak pekerjaan karena
mengontrol setiap kegiatan dari anggotanya bahkan mengambil alih setiap
pekerjaan yang tidak sesuai dengan standarnya.
Kelebihan
dari jenis ini adalah apa yang dilakukan oleh anggota dari organisasi selalu
sempurna. Karena sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pemimpin. Selain
itu pemimpin jenis ini juga akan sangat maju jika bertemu dengan anggota yang
senang bekerja dan mampu membangun motivasi dirinya. Sehingga anggotanya akan
memenuhi standar yang sudah ditetapkan oleh pemimpin jadi semua dapat selesai sesuai
target.
6. Coaching
Jenis
kepemimpinan ini hampir sama dengan kepemimpinan pacesetting karena pemimpin
ini juga menuntut kesempurnaan dari anggotanya. Akan tetapi jenis ini menetukan
ketentuan yang berbeda-beda untuk setiap orang.Pemimpin ini menuntut anggotanya
untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing
anggota. Karena pemimpin berpendapat bahwa dengan berkembangnya anggota maka
akan berkembang pula organisasi yang dipimpinnya.
Kelemalan
dari kepemimpinan jenis ini adalah seorang pemimpin memerlukan waktu yang lama
untuk mengembangkan anggotannya satu-persatu karena setiap individu
berbeda-beda sehingga perlu diadakan pembicaraan secara langsung dengan anggota
satu persatu. Selain itu anggota yang malas akan merasa tertekan karena selalu
dituntut untuk melakukan hal-hal tertentu.
Selain kelemahan tentunya jenis kepemimpinan ini juga
memiliki kelebihan yaitu pemimpin akan mengenali semua anggota yang ada dalam
organisasinya. Hal ini juga dapat untuk menggali kemampuan terpendam dari
anggotanya dan juga memperbaiki kelemahan-kelemahan dari anggotanya.
B.
TEORI KONTINGENSI DARI FREUD FIELDER
“Contingency Theory” Teori
kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan
seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas
kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya
kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan
kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin
bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor
situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967) . Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and the degree to which the leader has control and influence in a particular situation, the situational favorableness. Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu. Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri dari 16 butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke terlaksananya tugas (task oriented). Fiedler menyimpulkan bahwa:
Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967) . Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and the degree to which the leader has control and influence in a particular situation, the situational favorableness. Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu. Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri dari 16 butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke terlaksananya tugas (task oriented). Fiedler menyimpulkan bahwa:
1. Pemimpin dengan skor LPC rendah
(pemimpin yang berorientasi ke tugas) cenderung untuk berhasil paling baik
dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan, maupun yang sangat tidak
menguntungkan pemimpin.
2. Pemimpin dengan
skor LPC tinggi ( pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung untuk
berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sederajat dengan
keuntungannya.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi / lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi / lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
a. Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).
b. Struktur tugas (task structure)
Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu tidak jelas atau kabur.
Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu tidak jelas atau kabur.
c.
Hubungan antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member
relations)
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).
Berdasarkan
ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang
berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat
keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota
baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling
tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik,
struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.
sumber :
Nurkholis.2003.Manajemen Berbasis Sekolah.Jakarta:Grasindo
Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. 2003. Manajemen Motivasi. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana
Suradinata, Ermaya. 1995. Psikologi Kepegawaian dan Peranan Pimpinan Dalam Motivasi Kerja. Bandung : CV Ramadan
Winardi. 1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

