Senin, 20 Juni 2016

Kasus Kesehatan Mental di Indonesia & Pandangan Yang Terkait Akan Kesadaran Kesehatan Mental Yang Ada Pada Masyarakat Di Indonesia


    1. KASUS KESEHATAN MENTALdi INDONESIA
Dena Rachman jadi perbincangan publik karena wanita cantik ini sebenarnya adalah mantan artis cilik bernama Renaldy yang telah melakukan transgender. Bagaimana kisah hidup Dena Rachman hingga memutuskan menjadi seorang wanita? Dena mengungkapkan bahwa sisi feminimnya memang lebih menonjol sejak ia masih kecil dan sangat yakin bahwa seharusnya ia hidup sebagai seorang wanita. Namun ada satu tahap rumit yang harus Dena lewati, yaitu memberitahu orang tua. Walau begitu mantan presenter Kru Cilik SCTV ini sudah siap dengan segala resikonya, mulai dari diusir dari rumah, tidak dianggap anak lagi oleh orang tuanya, hingga memilih mati. Ginna Rachman sang ibu pun tentu saja terkejut dengan pengakuan Dena, namun akhirnya hanya bisa pasrah dengan pilihan anaknya. “Dena saat itu beritahu aku, ‘Mama aku mau ngomong, aku memang begini adanya. Terserah Mama mau anggap aku tetap anak atau tidak atau aku keluar dari sini atau aku mati aja‘,” kata Ginna. ”Cuma aku arahkan dia, kalau memang itu pilihan kamu, go a head. Tapi aku arahkan, sekolah kamu harus bener.” Sampai saat ini Dena masih kerap mendapat tudingan negatif dari masyarakat. Alumni UI ini bahkan dituduh melakukan operasi macam-macam agar terlihat lebih cantik untuk menyempurnakan penampilannya sebagai seorang wanita. Tapi, apa tanggapan Dena?

“Aku begini dari lahir. Everything is original,” kata Dena yang mulai berdandan full sebagai wanita sejak masuk bangku kuliah. ”Tubuh aku begini karena memang dari Mama. Nggak (operasi) sama sekali.”

       
 ANALISIS : 
             Analisis kasus ini menggunakan Teori Erich Erikson yaitu Pasca-Aliran Freud (Post-Freudian) dimana subjek mengalami gangguan pada tahap perkembangan kepribadiannya. Erickson adalah orang yang menyumbangkan istilah kritis identitas. Teori yang dikemukakan Erickson mengembangkan tahapan perkembangan anak-anak Freud menjadi remaja, masa dewasa, dan usia lanjut. Erickson menyatakan bahwa tiap tahap, perjuangan psikososial spesifik memberikaan kontribusi pada pembetukan kepribadian. Dari mulai remaja hingga seterusnya, perjuangan tersebut berbentuk krisis identitas, yaitu titik balik dalam hidup seseorang yang dapat memperkuat atau memperlemah kepribadian. Erikson menekankan pada pengaruh sosial dan sejarah untuk menguraikan tahapan psikoseksual setelah masa kanak-kanak.

Pada kasus ini, subjek mengalami gangguan di salah tahap perkembangan psikoseksual. Dimana pada salah satu tahap perkembangan menurut Erickson tidak dilewati secara baik. Pemahaman tentang tahapan perkembangan psikoseksual erikson membutuhkan pemahaman tentang beberapa poin.
 Petama, pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip epigenetik, yaitu satu bagian komponen yang tumbuh dari komponen lain dan memiliki pengaruh waktu tersendiri, namun tidak menggatikan komponen sebelumnya.
 Kedua, di dalam tiap tahapan kehidupan terdapat interaksi berlawanan, yaitu konflik antara elemen sintonik (harmpnis) dan elemen distonik (mengacaukan). Disini rasa percaya berlawanan dengan rasa tidak percaya ( Basic Trust vs Mistrust), mungkin ini yang dialami oleh seorang Dena Rachman dimana ia merasa tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya sebagai lelaki, dia cendrung nyaman dengan penampilan sebagai wanita.
 Ketiga, ditiap tahap konflik antara elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego yang Erickson sebut sebagai kekuatan dasar (basic strength). Diantara rasa percaya dan tidak percaya munculnya harapan, kualitas ego yang memungkinkan seseorang untuk maju ketahap selanjutnya. Seorang yang memiliki “gangguan seksualitas” akan berbenturan dengan kenyataan dan akan mengacaukan pada tahapan perkembangan yang dilaluinya. Dia akan marasakan kebingungan akan dirinya karena dia mempunyai kekuatan dasar atau kekuatan ego yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya. 
Keempat, terlalu sedikitnya kekuatan pada satu tahap mengakibatkan patologi inti (core pathology) pada tahap tersebut dan setiap tahap memiliki potensi patologi inti. Biasanya yang terjadi seorang anak yang tidak memperoleh cukup harapan selama masa bayi akan berlawanan dari harapan. Orang yang mengalami transgender pada masa kecilnya biasanya tidak diharapkan untuk tumbuh menjadi apa yang telah dimilikinya. Seseorang terlahir sebagai laki-laki namun pengharapan orang tua pada si anak tsb menjadi seorang wanita dan orang tuanya juga memperlakukan sebagai seorang anak perempuan. Hal ini bisa terjadi dan bisa menjadi penyebab seseorang yang mengalami ganguan seksualitas dan memutuskan untuk trans gender. 
Kelima, kedelapan tahap perkembangan Erickson tidak hanya mengacu pada tahap psikososial, namun juga tak pernah meninggalkan spek biologis dalam perkembangan manusia. Tidak hanya karena lingkungan sosial seseorang menjadi trans gender tapi juga ada faktor biologis dalam dirinya. Seseorang bisa saja terjebak didalam tubuh yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, dalam kasus ini Dena mempunyai lebih banyak hormon perempuan yang dihaslkan dari pada hormon laki-laki. Hal itu yang menyebabkan dia menjadi suka berdandan dan suka segala sesuatu yang menjadi kesukaan perempuan. 
Keenam, peristiwa peristiwa ditahap sebelumnya tidak menyebabkan perkembangan kepribadian selanjutnya. Ketujuh, selama tiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas yang Erickson sebut sebagai “titik balik”. Krisis identitas ini terjadi pada tahap remaja, pada tahap ini seseorang mengalami pubertas , remaja mencari peran baru untuk membantu mereka menemukan jati diri, idenstitas seksual, ideologis dan pekerjaan mereka. Disinilah tahap yang berperan dalam pengambilan keputusan siapa jati diri seseorang karena pada tahap ini remaja mengalami masa identas versus kebingungan idenitas. Seorang dena rachman juga mengalami krisis identitas, ia memutuskan apa yang ia yakini dan apa yang dia percaya tentang dirinya. Ia merasa bahwa jati dirinya sebagai seorang perempuan bukan sebagai seorang laki-laki. Pilihan yang tentu saja sulit, ketika keluarganya mengetahui bahwa dia dilahirkan sebagai seorang laki-laki dan untuk memutuskan untuk mengambil langkah mengikuti kata hatinya juga merupakan suatu tahap yang sangat sulit. Karena belum tentu keluarga dan lingkungan sosial mendukung tentang keputusannya. Disinilah peran sosial dalam pembentukan kepribadian maupun untuk membantu masa krisis identitas seseorang. Jika lingkungan sosial dan keluarga mendukung apa yang menjadi keputusan denna, maka denna pun akan mudah memilih jati diri yang sesuai dengannya. Hingga ia meumtuskan untuk tran gender. Meskipun banyak orang yang masih bertanya tanya tentang dirinya, namun dena cukup percaya diri karena ia mempunyai kekuatan dasar dalam dirinya sebagai seorang perempuan dan juga mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya seperti keluarga dan teman dekatnya. Dengan dukungan sosial iniliah yang membuat dena menajadi lebih berani dalam memilih kariernya dan bisa menjadi seorang trans gender yang sukses.


2.      Pandangan Akan Terkait Kesadaran Kesehatan Mental Pada Masyarakat Di Indonesia 
               Menurut WHO (World Health Organization), sehat adalah kondisi lengkap baik fisik, mental, maupun kesejahteraan sosial. Sedangkan kesehatan mental yakni kondisi sejahtera karena individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan, bekerja dengan baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi kelompoknya. Di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluargapun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia sendiri, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung oleh keluarga dikarenakan stigma negatif, kurangnya informasi dan pemahaman terkait kesehatan mental, serta kurangnya fasilitas penanganan yang memadai. Di Indonesia pada tahun 2012 hanya terdapat 345 psikolog klinis dari 240 juta jiwa penduduk dan hanya terpusat di Pulau Jawa, padahal rasio idealnya yakni 22:100.000. Menurut data dari Riset Kehesatan Mental pada tahun 2007 di Indonesia terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang, dan angka tersebut terus meningkat walaupun belum ada data pasti terbaru. Isu kesehatan mental apabila terus menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi Indonesia. Penurunan produktifitas terbukti berdampak nyata pada perekonomian. DALY (Disability-Adjusted Life Year) atau waktu yang hilang selama setahun dari penderita gangguan mental ternyata 12,5% lebih besar daripada penderita penyakit jantung sistemik dan TBC . Bahkan menurut WHO dan WEF (World Economic Forum) gangguan mental menjadi beban ekonomi terbesar di seluruh dunia dibanding isu kesehatan lain dengan menghabiskan $2,5 triliun pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi $6 triliun dolar pada tahun 2030 karena 2/3 dari hilangnya dana terpakai akibat disabilitas dan kehilangan pekerjaan. WHO pun dengan tegas menyatakan bahwa pembangunan kesehatan fisik dan mental secara berimbang merupakan sebuah kewajiban yang harus ditanggung bersama oleh pemerintah dan segenap masyarakat.



Menurut saya, berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih aware akan pentingnya kesehatan mental karena berdampak langsung terhadap perekonomian sebuah negara. Selain itu, sebagai sesama manusia sebaiknya kita mampu untuk menerima kekurangan orang lain. Dalam hal ini termasuk menerima berbagai kondisi yang dialami oleh penderita gangguan mental. Perilaku negatif dari masyarakat dan stereotip bahwa penderita gangguan mental adalah seorang aneh dan berbahaya yang sering diberikan masyarakat kepada para penderita semakin mempersulit penderita untuk dapat menerima penanganan yang sesuai dan menghambat proses kesembuhan dan adaptasi sosial penderita. Kondisi semakin ini diperburuk dengan sikap masyarakat yang lebih memilih untuk melakukan pemasungan daripada mencari psikolog, psikiater ataupun mental health care. Berbagai kondisi tersebut membuat para penderita semakin kesepian dan terisolasi. Sebagian bahkan menginternalisasi pesan dan membentuk citra diri negatif sehingga para penderita merasa tidak layak untuk hidup dan memilih untuk melukai diri sendiri bahkan bunuh diri. Banyak hal yang masyarakat bisa lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan mengurangi stigma negatif terhadap para penderita serta menyadari dan menerima bahwa para penderita sebenarnya juga merupakan seorang manusia yang layak untuk mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai.



Selain itu, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi tentang berbagai gangguan mental untuk mengurangi stigma dan salah persepsi yang sering disematkan masyarakat kepada penderita. Pemerintah juga perlu untuk lebih memperhatikan fasilitas dan kualitas dari penanganan penderita. Pendidikan yang lebih baik juga perlu diberikan kepada orang – orang yang concern dan aktif dalam menangani penderita. Sudah saatnya alokasi dana dari pemerintah tidak hanya digunakan untuk kesehatan fisik semata tetapi juga kesehatan mental, mengingat banyak pula riset yang menyatakan bahwa sebagian besar masalah kesehatan fisik berakar pada kesehatan mental. Dengan hidup sehat dan mendekatkan diri kepada Tuhan Manusia akan lebih sehat secara fisik dan juga mental. Hormati norma yang ada, saling mendukung akan meningkatkan kesehatan mental di masyarakat.






 DAFTAR PUSTAKA


Ofm Semiun Yustinus. 2006. Kesehatan mental 1. Yogyakarta : penerbit kanisius.

Baron, R. A. Dan Byrne, D. (1994).Social psychology: Understanding Human 
                 Interaction Edisi ke-7 . Boston: Allyn and Bacon.