1. KASUS KESEHATAN MENTALdi INDONESIA
ANALISIS :
Ofm Semiun Yustinus. 2006. Kesehatan
mental 1. Yogyakarta : penerbit kanisius.
Baron, R. A. Dan Byrne, D. (1994).Social
psychology: Understanding Human
Dena Rachman jadi perbincangan
publik karena wanita cantik ini sebenarnya adalah mantan artis cilik
bernama Renaldy yang telah melakukan transgender.
Bagaimana kisah hidup Dena Rachman hingga memutuskan menjadi seorang wanita? Dena
mengungkapkan bahwa sisi feminimnya memang lebih menonjol sejak ia masih kecil
dan sangat yakin bahwa seharusnya ia hidup sebagai seorang wanita. Namun ada
satu tahap rumit yang harus Dena lewati, yaitu memberitahu orang tua. Walau
begitu mantan presenter Kru Cilik SCTV ini
sudah siap dengan segala resikonya, mulai dari diusir dari rumah, tidak
dianggap anak lagi oleh orang tuanya, hingga memilih mati. Ginna Rachman sang
ibu pun tentu saja terkejut dengan pengakuan Dena, namun akhirnya hanya bisa
pasrah dengan pilihan anaknya. “Dena saat itu beritahu aku, ‘Mama aku mau ngomong, aku memang begini
adanya. Terserah Mama mau anggap aku tetap anak atau tidak atau aku keluar dari
sini atau aku mati aja‘,” kata Ginna. ”Cuma aku arahkan dia, kalau
memang itu pilihan kamu, go a head. Tapi aku arahkan, sekolah kamu
harus bener.” Sampai saat ini Dena masih kerap mendapat tudingan negatif dari
masyarakat. Alumni UI ini bahkan dituduh melakukan operasi macam-macam agar
terlihat lebih cantik untuk menyempurnakan penampilannya sebagai seorang
wanita. Tapi, apa tanggapan Dena?
“Aku begini dari lahir. Everything is original,”
kata Dena yang mulai berdandan full sebagai wanita sejak masuk
bangku kuliah. ”Tubuh aku begini karena memang dari Mama. Nggak (operasi)
sama sekali.”
ANALISIS :
Analisis
kasus ini menggunakan Teori Erich Erikson yaitu Pasca-Aliran Freud
(Post-Freudian) dimana subjek mengalami gangguan pada tahap perkembangan
kepribadiannya. Erickson adalah orang yang menyumbangkan istilah kritis
identitas. Teori yang dikemukakan Erickson mengembangkan tahapan perkembangan
anak-anak Freud menjadi remaja, masa dewasa, dan usia lanjut. Erickson
menyatakan bahwa tiap tahap, perjuangan psikososial spesifik memberikaan
kontribusi pada pembetukan kepribadian. Dari mulai remaja hingga seterusnya,
perjuangan tersebut berbentuk krisis identitas, yaitu titik balik dalam hidup
seseorang yang dapat memperkuat atau memperlemah kepribadian. Erikson
menekankan pada pengaruh sosial dan sejarah untuk menguraikan tahapan
psikoseksual setelah masa kanak-kanak.
Pada
kasus ini, subjek mengalami gangguan di salah tahap perkembangan psikoseksual.
Dimana pada salah satu tahap perkembangan menurut Erickson tidak dilewati
secara baik. Pemahaman tentang tahapan perkembangan psikoseksual erikson
membutuhkan pemahaman tentang beberapa poin.
Petama, pertumbuhan terjadi
berdasarkan prinsip epigenetik, yaitu satu bagian komponen yang tumbuh dari
komponen lain dan memiliki pengaruh waktu tersendiri, namun tidak menggatikan
komponen sebelumnya.
Kedua, di dalam tiap tahapan kehidupan terdapat interaksi
berlawanan, yaitu konflik antara elemen sintonik (harmpnis) dan elemen distonik
(mengacaukan). Disini rasa percaya berlawanan dengan rasa tidak percaya ( Basic
Trust vs Mistrust), mungkin ini yang dialami oleh seorang Dena Rachman dimana
ia merasa tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya sebagai lelaki, dia cendrung
nyaman dengan penampilan sebagai wanita.
Ketiga, ditiap tahap konflik antara
elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego yang
Erickson sebut sebagai kekuatan dasar (basic strength). Diantara rasa percaya
dan tidak percaya munculnya harapan, kualitas ego yang memungkinkan seseorang
untuk maju ketahap selanjutnya. Seorang yang memiliki “gangguan seksualitas”
akan berbenturan dengan kenyataan dan akan mengacaukan pada tahapan
perkembangan yang dilaluinya. Dia akan marasakan kebingungan akan dirinya
karena dia mempunyai kekuatan dasar atau kekuatan ego yang tidak sesuai dengan
kenyataan dirinya.
Keempat, terlalu sedikitnya kekuatan
pada satu tahap mengakibatkan patologi inti (core pathology) pada tahap
tersebut dan setiap tahap memiliki potensi patologi inti. Biasanya yang terjadi
seorang anak yang tidak memperoleh cukup harapan selama masa bayi akan
berlawanan dari harapan. Orang yang mengalami transgender pada masa kecilnya
biasanya tidak diharapkan untuk tumbuh menjadi apa yang telah dimilikinya.
Seseorang terlahir sebagai laki-laki namun pengharapan orang tua pada si anak
tsb menjadi seorang wanita dan orang tuanya juga memperlakukan sebagai seorang
anak perempuan. Hal ini bisa terjadi dan bisa menjadi penyebab seseorang yang
mengalami ganguan seksualitas dan memutuskan untuk trans gender.
Kelima, kedelapan tahap perkembangan
Erickson tidak hanya mengacu pada tahap psikososial, namun juga tak pernah
meninggalkan spek biologis dalam perkembangan manusia. Tidak hanya karena
lingkungan sosial seseorang menjadi trans gender tapi juga ada faktor biologis
dalam dirinya. Seseorang bisa saja terjebak didalam tubuh yang tidak sesuai
dengan kepribadiannya, dalam kasus ini Dena mempunyai lebih banyak hormon
perempuan yang dihaslkan dari pada hormon laki-laki. Hal itu yang menyebabkan
dia menjadi suka berdandan dan suka segala sesuatu yang menjadi kesukaan
perempuan.
Keenam, peristiwa peristiwa ditahap
sebelumnya tidak menyebabkan perkembangan kepribadian selanjutnya. Ketujuh,
selama tiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya perkembangan
kepribadian ditandai oleh krisis identitas yang Erickson sebut sebagai “titik
balik”. Krisis identitas ini terjadi pada tahap remaja, pada tahap ini
seseorang mengalami pubertas , remaja mencari peran baru untuk membantu mereka
menemukan jati diri, idenstitas seksual, ideologis dan pekerjaan mereka.
Disinilah tahap yang berperan dalam pengambilan keputusan siapa jati diri
seseorang karena pada tahap ini remaja mengalami masa identas versus
kebingungan idenitas. Seorang dena rachman juga mengalami krisis identitas, ia
memutuskan apa yang ia yakini dan apa yang dia percaya tentang dirinya. Ia
merasa bahwa jati dirinya sebagai seorang perempuan bukan sebagai seorang
laki-laki. Pilihan yang tentu saja sulit, ketika keluarganya mengetahui bahwa
dia dilahirkan sebagai seorang laki-laki dan untuk memutuskan untuk mengambil
langkah mengikuti kata hatinya juga merupakan suatu tahap yang sangat sulit.
Karena belum tentu keluarga dan lingkungan sosial mendukung tentang
keputusannya. Disinilah peran sosial dalam pembentukan kepribadian maupun untuk
membantu masa krisis identitas seseorang. Jika lingkungan sosial dan keluarga
mendukung apa yang menjadi keputusan denna, maka denna pun akan mudah memilih
jati diri yang sesuai dengannya. Hingga ia meumtuskan untuk tran gender.
Meskipun banyak orang yang masih bertanya tanya tentang dirinya, namun dena
cukup percaya diri karena ia mempunyai kekuatan dasar dalam dirinya sebagai
seorang perempuan dan juga mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya seperti
keluarga dan teman dekatnya. Dengan dukungan sosial iniliah yang membuat dena
menajadi lebih berani dalam memilih kariernya dan bisa menjadi seorang trans
gender yang sukses.
2. Pandangan
Akan Terkait Kesadaran Kesehatan Mental Pada Masyarakat Di Indonesia
Menurut WHO (World Health Organization), sehat adalah kondisi lengkap baik fisik, mental, maupun kesejahteraan sosial. Sedangkan kesehatan mental yakni kondisi sejahtera karena individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan, bekerja dengan baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi kelompoknya. Di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluargapun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia sendiri, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung oleh keluarga dikarenakan stigma negatif, kurangnya informasi dan pemahaman terkait kesehatan mental, serta kurangnya fasilitas penanganan yang memadai. Di Indonesia pada tahun 2012 hanya terdapat 345 psikolog klinis dari 240 juta jiwa penduduk dan hanya terpusat di Pulau Jawa, padahal rasio idealnya yakni 22:100.000. Menurut data dari Riset Kehesatan Mental pada tahun 2007 di Indonesia terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang, dan angka tersebut terus meningkat walaupun belum ada data pasti terbaru. Isu kesehatan mental apabila terus menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi Indonesia. Penurunan produktifitas terbukti berdampak nyata pada perekonomian. DALY (Disability-Adjusted Life Year) atau waktu yang hilang selama setahun dari penderita gangguan mental ternyata 12,5% lebih besar daripada penderita penyakit jantung sistemik dan TBC . Bahkan menurut WHO dan WEF (World Economic Forum) gangguan mental menjadi beban ekonomi terbesar di seluruh dunia dibanding isu kesehatan lain dengan menghabiskan $2,5 triliun pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi $6 triliun dolar pada tahun 2030 karena 2/3 dari hilangnya dana terpakai akibat disabilitas dan kehilangan pekerjaan. WHO pun dengan tegas menyatakan bahwa pembangunan kesehatan fisik dan mental secara berimbang merupakan sebuah kewajiban yang harus ditanggung bersama oleh pemerintah dan segenap masyarakat.
Menurut WHO (World Health Organization), sehat adalah kondisi lengkap baik fisik, mental, maupun kesejahteraan sosial. Sedangkan kesehatan mental yakni kondisi sejahtera karena individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan, bekerja dengan baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi kelompoknya. Di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluargapun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia sendiri, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung oleh keluarga dikarenakan stigma negatif, kurangnya informasi dan pemahaman terkait kesehatan mental, serta kurangnya fasilitas penanganan yang memadai. Di Indonesia pada tahun 2012 hanya terdapat 345 psikolog klinis dari 240 juta jiwa penduduk dan hanya terpusat di Pulau Jawa, padahal rasio idealnya yakni 22:100.000. Menurut data dari Riset Kehesatan Mental pada tahun 2007 di Indonesia terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang yang menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang, dan angka tersebut terus meningkat walaupun belum ada data pasti terbaru. Isu kesehatan mental apabila terus menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi Indonesia. Penurunan produktifitas terbukti berdampak nyata pada perekonomian. DALY (Disability-Adjusted Life Year) atau waktu yang hilang selama setahun dari penderita gangguan mental ternyata 12,5% lebih besar daripada penderita penyakit jantung sistemik dan TBC . Bahkan menurut WHO dan WEF (World Economic Forum) gangguan mental menjadi beban ekonomi terbesar di seluruh dunia dibanding isu kesehatan lain dengan menghabiskan $2,5 triliun pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi $6 triliun dolar pada tahun 2030 karena 2/3 dari hilangnya dana terpakai akibat disabilitas dan kehilangan pekerjaan. WHO pun dengan tegas menyatakan bahwa pembangunan kesehatan fisik dan mental secara berimbang merupakan sebuah kewajiban yang harus ditanggung bersama oleh pemerintah dan segenap masyarakat.
Menurut
saya, berdasarkan kenyataan tersebut sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih
aware akan pentingnya kesehatan mental karena berdampak langsung terhadap
perekonomian sebuah negara. Selain itu, sebagai sesama manusia sebaiknya kita
mampu untuk menerima kekurangan orang lain. Dalam hal ini termasuk menerima
berbagai kondisi yang dialami oleh penderita gangguan mental. Perilaku negatif
dari masyarakat dan stereotip bahwa penderita gangguan mental adalah seorang
aneh dan berbahaya yang sering diberikan masyarakat kepada para penderita
semakin mempersulit penderita untuk dapat menerima penanganan yang sesuai dan
menghambat proses kesembuhan dan adaptasi sosial penderita. Kondisi semakin ini
diperburuk dengan sikap masyarakat yang lebih memilih untuk melakukan
pemasungan daripada mencari psikolog, psikiater ataupun mental health care.
Berbagai kondisi tersebut membuat para penderita semakin kesepian dan
terisolasi. Sebagian bahkan menginternalisasi pesan dan membentuk citra diri
negatif sehingga para penderita merasa tidak layak untuk hidup dan memilih
untuk melukai diri sendiri bahkan bunuh diri. Banyak hal yang masyarakat bisa
lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan mengurangi
stigma negatif terhadap para penderita serta menyadari dan menerima bahwa para
penderita sebenarnya juga merupakan seorang manusia yang layak untuk
mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai.
Selain
itu, pemerintah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi tentang berbagai
gangguan mental untuk mengurangi stigma dan salah persepsi yang sering
disematkan masyarakat kepada penderita. Pemerintah juga perlu untuk lebih
memperhatikan fasilitas dan kualitas dari penanganan penderita. Pendidikan yang
lebih baik juga perlu diberikan kepada orang – orang yang concern dan aktif
dalam menangani penderita. Sudah saatnya alokasi dana dari pemerintah tidak
hanya digunakan untuk kesehatan fisik semata tetapi juga kesehatan mental,
mengingat banyak pula riset yang menyatakan bahwa sebagian besar masalah
kesehatan fisik berakar pada kesehatan mental. Dengan hidup sehat dan
mendekatkan diri kepada Tuhan Manusia akan lebih sehat secara fisik dan juga
mental. Hormati norma yang ada, saling mendukung akan meningkatkan kesehatan
mental di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Interaction Edisi ke-7 . Boston: Allyn
and Bacon.
