Kamis, 30 Maret 2017

PSIKOTERAPI

LAPORAN
PSIKOTERAPI


KELOMPOK :
Aisyah Girindra (10514642)
Greath Valiant (14514609)
LuxmanHasanBasri (16514205)
Patricia Farida Sihombing (18514411)
R. VirdianaIkaRatri (18514658)
Rita Purnama Sari (19514541)
Rizki (19514596)
KELAS
3PA13

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
DEPOK


LANDASAN TEORI
A. Family Therapy
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah Suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan.
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.
Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang tejadi dalam suatu keluarga.
1.        Jenis-Jenis Family Therapy
a.       Teori Keluarga Bowen
Penting untuk membedakan diri seseorang dari keluarganya. Kecemasan yang tak terkontrol menghasilkan ketidakmampuan berfungsi keluarga. Peran Konselor sebagai pelatih dan guru dan berkonsentrasi pada isu-isu keterikatan dan diferensiasi.
b.      Teori Keluarga Psikodinamik
Pendekatan ini menggunakan cara dan strategi psikoterapi individual dalam situasi keluarga dengan mendorong munculnya insighttentang diri sendiri dan anggota keluarga, untuk membantu keluarga dalam pertukaran emosi, kontak konselor hanya sementara dan konselor akan menarik diri jika keluarga telah mampu mengatasi problemnya secara konstruktif. Peranan Konselor sebagai seorang guru dan interpreter pengalaman (analisis).

c.       Konseling Keluarga Ekperiental (Pengalaman)
Masalah-masalah keluarga berakar dari perasaan-perasaan yang di tekan, kekakuan, penolakan / pengabaian impuls-impuls, kekurangwaspadaan, dan kematian emosional. Konselor menggunakan pribadinya sendiri. Mereka harus terbuka, spontan, empatic, sensitive dan harus mendemonstrasikan perhatian dan penerimaan. Mereka harus memperlakukan dengan terapi regresi dan mengajari anggota keluarga keterampilan-keterampilan baru dalam mengkomunikasikan perasaan-perasaan secara gamblang.

  
TUJUAN
Di bawah ini  diringkas tujuan terapi keluarga. Seorang ahli terapi bertemu dengan keseluruhan keluarga dan kadang-kadang dengan suatu sub -sistem di dalam keluarga itu untuk membantu keluarga mempelajari:
1)      Menyampaikan perasaan mereka (baik positif maupun negatif), kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, nilai-nilai dan harapan-harapan mereka lebih terbuka, jelas dan sungguh. Ahli terapi adalah seorang pelatih keterampilan komunikasi yang memperkuat hubungan yang efektif.
2)      Menggeser pendekatan yang terutama difokuskan pada seorang (individu) anggota keluarga yang dibawa sebagai “pasien” ke pendekatan yang difokuskan pada penanggulangan penyakit yang tersembunyi,konflik dan pertumbuhan yang terhalang pada semua anggota keluarga yang menyebabkan masalah bagi si individu itu. Hal ini dapat mencakup sejumlah session terapi perkawinan kepada suami - istri (sub – sistem keluarga)
3)      Mencegah dengan segera lingkaran tindakan saling memperbesar kepuasan kebutuhan di antara para anggota keluarga.
4)      Saling memelihara dan tidak menghancurkan harga diri- masing-masing anggota keluarga.
5)      Menyadari perjanjian keluarga mereka yaitu: berbagai peraturan,peran,nilai, harapan,dan kepercayaan yang tersirat (implisit). Kemudian merundingkan kembali suatu persetujuan kerja yang lebih luas dan relevan yang dapat memberi kepuasan dan pertanggung jawaban,kekuatan dan kesempatan pertumbuhan yang lebih adil.
6)      Melihat yang positif dari usaha pertumbuhan yang gagal karena perilaku para anggota keluarga yang merintanginya. Kemudian belajar bagaimana mendorong pengungkapan usaha pertumbuhan ini dalam cara yang lebih bersifat perwujudan diri.
7)      Mengatasi konflik yang tidak terhindarkan dalam kehidupan bersama dengan cara yang lebih konstruktif. Dan mengenal bahwa pertumbuhan seering dapat diaktifkan justru pada saat konflik.
8)      Mengembangkan suatu keseimbangan yang lebih sehat antara kebutuhan dan kebersamaan dan kebutuhan akan otonomi ,dan memberi ruang gerak yang lebih besar bagi otonomi.
9)      Mencoba perilaku dan ca berinteraksi yang baru yang lebih tanggap kepada kebutuhan dari seluruh anggota keluarga. Ini sering mencakup mengerjakan “pekerjaan rumah” Siantar session terapi
10)  Membuat interaksi di dalam dan di antara sub–sistem keluarga itu lebih menimbulkan pertumbuhan
11)  Membuka sistem keluarga itu dengan mengembangkan hubungan yang lebih bersifat mendukung orang, keluarga dan lembaga di luar keluarga tersebut.
12)  Menciptakan suatu iklim antar pribadi yang paling sehat dalam keluarga itu, sehingga membuatnya suatu lingkungan pertubuhan yang lebih baik bagi semua anggota keluarga tersebut.

  

PROSES TERAPI
Family therapy biasanya masuk kedalam kaunseling. Perhubungan kaunseling keluarga biasanya mengikuti tahap-tahap yang boleh dijangkakan. Walaupun pakar dalam bidang kaunseling dan terapi keluarga mungkin tidak bersetuju tentang apakah yang patut berlaku dalam setiap tahap, tetapi kebanyakannya bersetuju bahwa perhubungan kaunseling keluarga biasanya melalui proses yang sama seperti berikut:

·         Tahap 1 : Tahap permulaan – Membina perhubungan dan membuat penilaian tentang masalah keluarga yang dihadapi.
·         Tahap 2 : Tahap pertengahan – Mengembangkan kesedaran emosi dan menerima pola ketidakfungsian keluarga.
·         Tahap 3 : Tahap akhir – Belajar bagaimana mengubah system keluarga.
·         Tahap 4 : Penamatan – Berpisah daripada terapi.

Tahap Permulaan: Membina Perhubungan dan Membuat Penilaian Masalah Keluarga
Pada tahap permulaan, kaunselor akan menerangkan tujuan dan proses terapi, peranan kaunselor dan tanggungjawab ahli keluarga dalam sesi.
Biasanya kaunselor akan:
1. Menggunakan rapot, keyakinan dan kepercayaan kepada kaunselor.
2. Menilai dinamik keluarga atau interaksi dan menjelaskan masalah utama.
Pembinaan rapot adalah kompleks karena kaunselor mesti membina perhubungan mempercayai (trust relationship) antara dirinya dengan setiap ahli keluarga dan pada masa yang sama membantu ahli keluarga untuk mempercayai antara satu sama lain. Seperti dalam kaunseling individu, perhubungan yang mesra, empatik dan tulen adalah penting dalam kaunseling keluarga. Kaunselor melayani (treat) setiap orang ahli keluarga sebagai penting; dan meminta atau mendesak (insist) setiap ahli keluarga bercakap untuk diri mereka sendiri dan mendengar antara satu sama lain dengan hormat. Atau sebab-sebab ini, kaunselor meminta setiap orang ahli keluarga untuk memberitahu apa yang mereka fikir atau anggap masalah utama dan menyatakan apa yang mereka harapkan atau mahukan daripada keluarga.

Tahap Pertengahan : Mengembangkan Kesedaran Emosi dan Menerima Pola Keluarga Disfungsi
Pada tahap pertengahan, kaunselor membantu ahli keluarga meneroka dan menganalisis dinamik mereka dan mendapatkan kefahaman apa yang menyebabkan masalah berlaku. Kaunselor ditahap ini biasanya lebih confrontational dan ahli keluarga biasanya mengalami serta mengakui rasa terluka, keperitan (hurt, pain) kekecewaan dan kehilangan. Kebimbangan bertambah bersama dengan pendedahan penuh emosi dan penentangan terdapat pada tahap pertengahan ini.
Dalam kaunseling keluarga, seperti juga dalam kaunseling individu, penentangan pada umumnya dilihat sebagai petanda positif sesuatu yang menandakan bahwa keluarga lebih dekat menghadapi (confronting) masalahnya atau menyedarkan kaunselor yang mereka bergerak terlalu cepat.
Ketakutan kepada perubahan (fear of change) menyumbang kepada penentang ini. Ahli keluarga mungkin menentang kaunseling atau terapi dengan membincangkan perkara-perkara yang superficial. Mereka mungkin juga menyoal kebolehan kaunselor untuk memahami masalah mereka. Lain-lain bentuk penentang yang biasa pada tahap ini ialah apabila seorang daripada ahli keluarga tidak mau bercakap kepada yang lain atau ahli keluarga mengganggu apabila salah seorang dari pada ahli keluarga mula mendedahkan sesuatu yang bermakna. Terdapat keadaan dimana semua ahli keluarga menentang dengan tidak memberitahu rahasia keluarga kepada masalah itu atau dengan menafikan bahwa orang yang terlibat telah bertambah baik. Pemindahan mungkin juga timbul semasa ahli keluarga mempojek emosi yang tidak selesai kepada counselor. Kounselor menolong ahli keluarga menangani (work through) penentangan dan pemindahan dengan bersabar terhadap klien dan dengan kepekaan serta empati bersama dengan kebimbangan dan ktakutan yang dijinakan oleh pendedahan tentang masalah mereka. Kounselor juga membantu ibu bapa melihat atau menyadari bahwa setengah daripada masalah mereka berpuncak daripada konflik yang tidak diselesaikan dalam keluarga asal mereka. Memainkan peranan atau psikodrama mungkin digunakan pada tahap ini.







DAFTAR PUSTAKA

Rashid, ABD Rahim,dkk. 2006. InstitusiKeluargaMenghadapiCabaran ALAF
BARU. Kuala Lumpur:MAZIZA SDN.BHD
Hasnida. 2002. Family Counseling. Universitas Sumatera Utara.
Somaryati dan Astutik, Sri. 2013. Family Therapy Dalam Menangani Pola Asuh

Orang Tua yang Salah Pada Anak Slow Learner. No 1, Vol 3. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. http://jurnalbki.uinsby.ac.id/index.php/jurnalbki/article/download/4/2

Selasa, 20 Desember 2016

PSIKOLOGI MANAJEMEN PENGERTIAN KEPEMIMPINAN JENIS - JENIS KEPEMIMPINAN DAN TEORI KONTINGENSI DARI FREUD FIELDER



A.
1.      PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kartono (2008) yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain.
Thoha (2010) juga mengatakan tentang definisi dari gaya kepemimpinan, dimana gaya kepemimpinan adalah norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain atau bawahan.
Robbins (2003) juga memberikan pengertian kepemimpinan dalam organisasi, yaitu merupakan kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah pencapaian tujuan. Jadi, secara umum dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam memimpin bawahannya dalam rangka mensukseskan tujuan organisasi.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

2.  JENIS – JENIS KEPEMIMPINAN
  1. Koersif
Jenis kepemimpinan ini bisa juga disebut dengan kepemimpinan otoriter. Pada jenis ini seorang pemimpin akan memerintah sesuai dengan kehendaknya sendiri tanpa ada orang yang boleh membantah semua perintahnya. Menurut pendapatnya seorang bawahan hanya akan bekerja jika diperintah. Selain itu pemimpin sudah menetukan ketentuan dari awal sehingga pada saat pelaksanaan tidak ada rencana atau usulan dari bawahannya. Pemimpin menjalankan semuannya sesuai dengan kehendak hati sang pemimpin sehingga bawahan hanya tinggal menjalankan apa saja tugasnya.


            Kelebihan dari tipe ini adalah ketika sebuah organisasi atau kelompok membutuhkan pengambilan keputusan secara mendadak dengan cepat dan tepat. Pengambilan keputusan akan difikirkan secara matang tanpa dipengaruri oleh orang lain. Selain itu saat pengambilan keputusan tidak perlu dengan adanya diskusi atau rapat dan terjadi perdebatan dari berbagai pihak yang hanya akan membuat keputusan tidak segera diambil. Sehingga pengambilan keputusan akan lebih cepat dan tepat jika diambil oleh seorang pemimpin saja. Selain itu pemimpin dengan jenis ini akan menumbuhkan sikap disiplin dari anggota atau bawahannya.
            Selain kelebihan jenis kepemimpinan ini juga memiliki kekurangan. Yaitu ketika pelaksanaan tugas atau pelaksanaan program-program yang direncanakan bawahan atau anggota kelompok tidak bisa berfikir kreatif dan akan mudah bosan. Hal ini dikarenakan apa yang dikerjakan sudah ditentukan oleh pemimpinnya dan bawahannya tidak boleh melakukan hal lain yang tidak sesuai dengan ketentuan. Selain itu tidak akan ada perubahan pada organisasi atau kelompok tersebut karena pemimpinnya sulit untuk menerima perubahan dan usulan dari bawahan atau anggotanya.

2.  Otoritatif
Jenis pemimpin ini bukan jenis pemimpin yang oteriter, akan tetapi pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dengan persetujuan dan kejelasan visi yang ia paparkan. Seorang pemimpinakan menjadikan orang lain bergerak menuju sebuah visi yang sudah ditentukan dengan bersemangat karena ia akan memberikan penghargaan yang pantas dan tujuan yang jelas tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga untuk jangka panjang. Pemimpin akan melakuakn perubahan-perubahan untuk mencapai visi dari organisasi tersebut. Pemimpin jenis ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan mudah mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama.
Otoratif juga memiliki kekurangan yaitu saat organisasi yang dipimpinnya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat dalam keadaan yang mendesak. Pemimpin jenis ini akan terlalu lama menentukan keputusan apa yang harus diambil. Selain itu pemimpin akan mengalami kesulitan saat anggota atau bawahannya tidak setingkat dengannya. Maksudnya para anggota atau bawahannya tidak mampu berfikir kreatif untuk sebuah perubahan. Selain itu pemimpin akan mengalami kesulitan saat bersama dengan tim ahli. Pemimpin ini akan dianggap terlalu angkuh atau sombong karena selalu berfikir kedepan dan menganggap orang lain tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan seperti dirinya.
Kepemimpinan yang otoritatif juga  memiliki kelebihan yaitu ketika seorang pemimpin bertemu dengan anggota yang sepadan. Maksudnya, anggota yang mampu diajak bekerjasama dan mampu membuat perubahan-perubahan sesuai dengan kemajuan jaman.

3. Afiliatif
            Kepemimpinan yang afiliatif adalah seorang pemimpin yang memberikan jalan bagi anggotanya untuk bertindak.Seorang pemimpin mengedepankan kebahagiaan dari anggotnya. Setiap anggotanya memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan dari organisasi. Pemimpin akan sangat disenangi oleh semua bawahan atau anggotanya karena dalam organisasi semua memiliki sifat terbuka.
Kelemahan dari teori ini adalah anggotanya akan merasa ketergantungan kepada pemimpinnya, karena pemimpin selalu membantu dan mengedepankan anggota atau bawahannya, pemimpin ibarat sebatang lilin yang rela terbakar untuk menerangi sekelilinganya. Selain itu apabila seseorang yang belum mengenal pemimpin tersebut akan menganggap remeh pemimpinnya, karena seorang pemimpin selalu terbuka dengan masalah yang dihadapi dan meminta pendapat dari bawahannya sehingga orang akan menanggap bahwa pemimpinnya tidak memilii kemampuan yangn memadai.
Selain itu teori ini memiliki kelebihan yaitu terjadi harmonisasi antara pemimpin dan bawahannya karena adanya keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasinya dapat saling bekerja sama dengan baik.Kelebihan yang paling utama adalah para anggotanya merasa senang karena pemimpin memprioritaskan semua kegiatan dan tujuannya pada anggotanya.

4. Demokatis
Kepemimpinan jenis ini mengedepankan pendapat dari anggota untuk mengambil keputusan sehingga setiap masalah diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Kepemimpinan ini hampir sama dengan kepemimpinan afiliatif akan tetapi perbedaannya adalah seorang pemimpin tidak mengedepankan kebahagiaan dari anggotannya akan tetapi tujuan keterbukaan adalah untuk saling faham satu sama lain sehingga bisa tercapai kerjasama. Pemimpin akan mengambil keputusan sesuai dengan suara terbanyak dari anggota.
Kelemahan dari kepemimpinan jenis ini adalah jika seorang pemimpin tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat dan terjadi kontra anatar anggota, selain itu apabila anggota tidak sefaham atau memiliki carapandang yang berbeda dengan pemimpin sehingga pada saat pengambilan keputusan tidak terjadi titik temu hanya saling berdebat satu sama lain. Pengambilan keputusan juga tidak selalu sesuai karena suara terbanyak belum tentu keputusan yang terbaik.Adakalanya suara terbanyak justru menjerumuskan kehal-hal yang tidak baik.
Akan tetapi jenis kepemimpin ini juga memiliki kelebihan yaitu terjadinya ketrebukaan antara anggota dan pemimpin jadi semua masalah yang terjadi dalam organisasi diketahui oleh semua anggota dan dapat turut menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga pemimpin juga tidak terlalu terbebani akan masalah yang dihadapi karena ditanggung bersama.

5. Pacesetting
Jenis kepemimpinan ini menyatakan bahwa seorang pemimpin membutuhkan atau menuntut kesempurnaan dari anggotanya. Pemimpin membuat standar-standar yang harus dipenuhi oleh setiap anggotanya agar tercapai apa yang diinginkan pemimpinnya. Seorang pemimpin akan mengambil alih tugas dari anggotanya apabila apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan standar yang ia tetapkan. Pemimpin tidak segan-segan untuk mengganti anggota dengan orang lain jika ia merasa tidak cocok atau tidak memenuhi standar.
           

Kelemahan dari jenis kepemimpinan ini adalah jika angotanya adalah orang yang tidak suka berkembang atau sulit memotivasi diri maka anggota merasa tidak dianggap oleh pemimpin dan menjadi malas untuk mengerjakan tugasnya dan pada akhirnya hanya akan diganti dengan yang lain.Pemimpin memiliki banyak pekerjaan karena mengontrol setiap kegiatan dari anggotanya bahkan mengambil alih setiap pekerjaan yang tidak sesuai dengan standarnya.
Kelebihan dari jenis ini adalah apa yang dilakukan oleh anggota dari organisasi selalu sempurna. Karena sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pemimpin. Selain itu pemimpin jenis ini juga akan sangat maju jika bertemu dengan anggota yang senang bekerja dan mampu membangun motivasi dirinya. Sehingga anggotanya akan memenuhi standar yang sudah ditetapkan oleh pemimpin jadi semua dapat selesai sesuai target.

6. Coaching
            Jenis kepemimpinan ini hampir sama dengan kepemimpinan pacesetting karena pemimpin ini juga menuntut kesempurnaan dari anggotanya. Akan tetapi jenis ini menetukan ketentuan yang berbeda-beda untuk setiap orang.Pemimpin ini menuntut anggotanya untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing anggota. Karena pemimpin berpendapat bahwa dengan berkembangnya anggota maka akan berkembang pula organisasi yang dipimpinnya.
                Kelemalan dari kepemimpinan jenis ini adalah seorang pemimpin memerlukan waktu yang lama untuk mengembangkan anggotannya satu-persatu karena setiap individu berbeda-beda sehingga perlu diadakan pembicaraan secara langsung dengan anggota satu persatu. Selain itu anggota yang malas akan merasa tertekan karena selalu dituntut untuk melakukan hal-hal tertentu.
            Selain kelemahan tentunya jenis kepemimpinan ini juga memiliki kelebihan yaitu pemimpin akan mengenali semua anggota yang ada dalam organisasinya. Hal ini juga dapat untuk menggali kemampuan terpendam dari anggotanya dan juga memperbaiki kelemahan-kelemahan dari anggotanya.

B. TEORI KONTINGENSI DARI FREUD FIELDER
“Contingency Theory” Teori kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
            Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967) . Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and the degree to which the leader has control and influence in a particular situation, the situational favorableness. Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu
. Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri dari 16 butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke terlaksananya tugas (task oriented). Fiedler menyimpulkan bahwa:

1.         Pemimpin dengan skor LPC rendah (pemimpin yang berorientasi ke tugas) cenderung untuk berhasil paling baik dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan, maupun yang sangat tidak menguntungkan pemimpin.

2.            Pemimpin dengan skor LPC tinggi ( pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung untuk berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sederajat dengan keuntungannya.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi / lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:

a.         Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).

b.            Struktur tugas (task structure)
                Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat        diperinci          secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung jawab   terhadapnya, akan berlainan   dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak             tersusun (unstructure) dan tidak jelas.            Apabila tugas-tugas tersebut telah             jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan       lebih mudah dikendalikan       dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas    pertanggungjawabannya         dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu             tidak jelas atau            kabur.

c.            Hubungan antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member relations)
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).
Berdasarkan ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik, struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.


sumber :

 Nurkholis.2003.Manajemen Berbasis Sekolah.Jakarta:Grasindo

 Arep, Ishak dan Hendri Tanjung. 2003. Manajemen Motivasi. Jakarta: PT.Gramedia  Widiasarana

           
Suradinata, Ermaya. 1995. Psikologi Kepegawaian dan Peranan Pimpinan Dalam Motivasi Kerja. Bandung : CV Ramadan

 Winardi. 1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta : PT. Rineka Cipta. 









Hasil gambar untuk logo gunadarma







Selasa, 08 November 2016

DIREKSI STRATEGI BISNIS






JOB DESK DIREKSI STRATEGI BISNIS
1.      Menyusun, mengatur, menganalisa, mengimplementasi dan mengevaluasi manajemen  pemasaran, penjualan dan promosi secara bertanggungjawab bagi perkembangan dan kemajuan perusahaan .
2.      Melakukan pengawasan dan pengendalian atas seluruh kinerja manajemen pemasaran, penjualan dan promosi bagi kepentingan perusahaan.
3.      Membuat, merumuskan, menyusun, menetapkan konsep dan rencana umum perusahaan, mengarahkan dan memberikan  kebijakan/keputusan atas segala rancang bangun dan implementasi manajemen pemasaran, penjualan dan promosi ke arah pertumbuhan dan perkembangan perusahaan

JOB SPEC DIREKSI STRATEGI BISNIS
1.      Pendidikan: Perguruan Tinggi (S-1)
2.      Pengalaman: Minimal 1 (satu) tahun dalam bidangnya.
3.      Kemampuan: (a) Menguasai dasar-dasar ilmu pemasaran, penjualan, promosi. (b). Dapat membuat, menyusun dan mengerjakan konsep dan kerangka kerja yang berhubungan dengan bisnis, pemasaran, dan penjualan. (c). Mampu merencanakan, mengadakan dan mengatur negosiasi dengan pihak-pihak lain. (d). Mampu dan aktif berbahasa Inggris.
4.      Kecekatan dan Kecermatan: Dapat memprediksi dan mengestimasi variabel resiko dan peluang.
5.      Dapat berpikir kritis
6.      Kepemimpinan: Dapat memimpin bawahan dengan baik dalam rangka melaksanakan pekerjaannya.
7.      Prakarsa: Memiliki prakarsa yang berkaitan dengan tugas terhadap bawahannya.

8.      Analisa: Memiliki kemampuan menganalisa kinerja pemasaran, penjualan dan promosi dengan baik dalam rangka pelaksanaan tugas dan pengawasan
   


                                                     Hasil gambar untuk logo gunadarma