GANGGUAN
OBESIF – KOMPULSIF
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive
Compulsive Disorder OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai oleh
pikiran-pikiran obsesif yang persisten dan disertai tindakan kompulsif. Kondisi
dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi
obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali
perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannyatersebut untuk menurunkan
tingkat kecemasannya.
Penderita
mengetahui bahwa perbuatan dan pikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada
tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi ia tidak dapat
menghilangkannya dan juga ia juga tidak mengerti mengapa ia mempunyai
dorongan yang begitu kuat untuk berbuat dan berpikir demikian. Bila tidak
menurutinya, maka akan timbul kecemasan yang hebat.
Gangguan Obsesif-kompulsif membutuhkan adanya obsesi atau kompulsiyang merupakan sumber gangguan atau kerusakan yang signifikan
dan bukan karenagangguan mental lainnya. Gannguan Obsesif-kompulsif diklasifikasikan
dalam Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR)
sebagai gangguan kecemasan.
Obsesi adalah hal yang mengganggu, berulang, ide-ide yang tidak diinginkan,pikiran,
atau impuls yang sulit untuk diberhentikan meskipun mengganggu alam sadar mereka.
Kompulsi merupakan perilaku yang dilakukan berulang, baik yang dapatdiamati
ataupun secara mental, yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkan
oleh obsesi. Beberapa penelitian besar menemukan bahwa obsesi yang tersering
adalah pikirang tentang kontaminasi, dan kompulsi tersering adalah tindakan“memeriksa”
sesuatu. Namun, sebagian besar individu dengan gangguan ini memiliki
multipel obsesi dan kompulsi dari waktu ke waktu.
EPIDEMIOLOGI
Setelah
diyakini langka, gangguan Obsesif-kompulsif memiliki prevalensiseumur hidup
sebesar 2,5% dalam studi ECA ( Epidemiological
Catchment Area).Perkiraan terbaru tentang prevalensi seumur hidup umumnya
berada pada kisaran 1,7-4%. Penelitian ECA menemukan bahwa gangguan
Obsesif-kompulsif adalah gangguan kejiwaan yang tersering keempat (setelah fobia, gangguan penggunaan narkoba
dan gangguan depresif mayor).
Pada beberapa pasien, gangguan ini dimulai pada masa pubertas atausebelumnya, timbulnya gangguan obsesif-kompulsif saat remaja umumnya terjadi pada laki-laki.Pasien lain dapat memiliki onset dikemudian hari, misalnya, setelahkehamilan, keguguran, atau selama proses melahirkan. Biasanya pasien dengangangguan Obsesif-kompulsif mengunjungi 3 sampai 4 dokter dan menghabiskanwaktu lebih dari 9 tahun untuk mencari pengobatan sebelum akhirnya didiagnosisdengan benar. Pasien juga mungkin merasa malu untuk mengunjungi seorang dokter,atau mungkin tidak menyadari bahwa bantuan tersedia, dalam satu survei, sehingga jeda waktu dari onset gejala menuju ke diagnosis yang benar adalah 17 tahun
Pada beberapa pasien, gangguan ini dimulai pada masa pubertas atausebelumnya, timbulnya gangguan obsesif-kompulsif saat remaja umumnya terjadi pada laki-laki.Pasien lain dapat memiliki onset dikemudian hari, misalnya, setelahkehamilan, keguguran, atau selama proses melahirkan. Biasanya pasien dengangangguan Obsesif-kompulsif mengunjungi 3 sampai 4 dokter dan menghabiskanwaktu lebih dari 9 tahun untuk mencari pengobatan sebelum akhirnya didiagnosisdengan benar. Pasien juga mungkin merasa malu untuk mengunjungi seorang dokter,atau mungkin tidak menyadari bahwa bantuan tersedia, dalam satu survei, sehingga jeda waktu dari onset gejala menuju ke diagnosis yang benar adalah 17 tahun
PSIKOLOGIS
Gangguan
Obsesif-kompulsif menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas
tertentu yang dipresentasikan oleh
pikiran tersebut. Ini disebut “thought-action
fusion
” (fusi pikiran dan tindakan). Fusi
antara pikiran dan tindakan ini dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung
jawab yang berlebih-lebihan yang menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti
yang berkembang selama masa kanak-kanak, dimana pikiran jahat diasosiasikan
dengan niat jahat.
FAKTOR PSIKOSOSIAL
Gangguan
obsesif-kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam perkembangannya. Mekanisme pertahanan
psikologis mungkin memegang peranan pada
beberapa manifestasi pada gangguan obsesif-kompulsif. Represiperasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi
alasan timbulnya pikiran berulang untuk
menyakiti orang tersebut. Mekanisme pertahanan psikologis mungkinmemegang peranan pada beberapa manifestasi gangguan
obsesif- kompulsi. Represi perasaan
marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.
DIAGNOSIS
Diagnosis
gangguan Obsesif-kompulsif didasarkan pada gambaran klinisnya.Tidak seperti pasien psikotik, pasien dengan gangguan
Obsesif-kompulsif biasanyamenunjukkan
wawasan dan menyadari bahwa perilaku mereka tidak normal atau tidak logis.
Sebagai
bagian dari kriteria diagnostik untuk Gangguan Obsesif Kompulsif,
Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, Fourth Edition, Text Revision
(DSM-IV-TR) memberikan kemudahan bagi para klinisi untuk mendiagnosis gangguan
Obsesif-kompulsif pada pasien yang umumnya tidak sadar akan obsesi berlebihan
dan kompulsinya
Kriteria
obsesi menurut Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders,Fourth Edition, Text Revision(DSM-IV-TR)
harus memenuhi 4 kriteria dibawah ini
:
·
Pikiran berulang dan terus-menerus,
impuls, atau gambaran yang dialami dibeberapa
waktu selama gangguan yang bersifat mengganggu dan tidak sesua idan menyebabkan
kecemasan dan penderitaan. Orang dengan gangguan ini menyadari
kualitas patologis dari pikiran-pikiran yang tidak diinginkan ini(seperti ketakutan untuk menyakiti anak-anak mereka)
dan tidak akan terjadipada mereka, tetapi
pikiran ini sangat mengganggu dan sulit untuk berdiskusi dengan orang lain.
· Pikiran, impuls, atau gambar tidak hanya kekhawatiran yang berlebihan tentang
masalah kehidupan nyata.
·
Pasien mencoba untuk menekan atau
mengabaikan pikiran seperti itu atauuntuk
menetralisirnya dengan beberapa pemikiran lain atau tindakan.
·
Orang tersebut mengakui bahwa pikiran
obsesional, impuls, atau gambaran adalah
produk dari pikiran sendiri (tidak dipaksakan dari luar, seperti dalam penyisipan pikiran).
GEJALA
KLINIS
Gejala
dari Obsesif-kompulsif ditandai dengan pengulangan pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam
sehari dan berlangsung selama1 sampai 2
minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
·
Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari
sepenuhnya oleh individu atau didasarkan
pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap
dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
·
Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh
individu dan berusaha melawan kebiasaan
dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga,namun tidak berhasil.
·
Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan
perasaan lega, rasa puas atau kesenangan,
melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres
yang dirasakannya.
·
Obsesi
(pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus
dalam beberapa kali setiap harinya.
Individu yang beresiko mengalami gangguan
obsesif-kompulsif adalah :
·
Individu
yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home,kesalahan atau
kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih
dapat diperhitungkan).
·
Faktor
neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, gangliabasalis dan
singulum.
·
Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi
- Riwayat gangguan kecemasan - Depresi – Individu yang mengalami
gangguan seksual.
PENANGANAN
PSIKOTERAPI
Penanganan
psikoterapi untuk gangguan Obsesif-kompulsif umumnyadiberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan
lainnya. Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk
pasien gangguan obsesif - kompulsif yang walaupun gejalanya memiliki
berbagai derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial.
Tujuan psikoterapi adalah :
·
Menguatkan daya tahan mental
yang ada
·
Mengembangkan mekanisme yang
baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan
kontrol diri
·
Mengembalikan
keseimbangan adaptif
Cara-cara psikoterapi suportif
antara lain sebagai berikut:
·
Ventilasi
atau (psiko) kataris
·
Persuasi
atau bujukan
·
Sugesti
·
Penjaminan
kembali (reassurance)
·
Bimbingan
dan penyuluhan.
·
Terapi kerja.
·
Hipno-terapi
dan narkoterapi.
·
Psikoterapi
kelompok
·
Terapi
perilaku
PSIKOFARMAKOLOGI
Obat-obat
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor
(SSRI)
bekerja terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali
serotonin. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat
(misalnya:fluoxetine) pada transporter ambilan kembali yang spesifik, sehinggga
tidak ada lagi
neurotransmitter
serotonin yang dapat berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akan menyebabkan
serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. Pengguanaan SelectiveSerotonin Reuptake Inhibitor
(SSRI)
terutama ditujukan untuk memperbaiki perilakustereotipi , perilaku melukai diri
sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin,dan ritual obsesif dengan
ansietas yang tinggi. Salah satu alasan utama pemilihan obat-obat penghambat
reuptake serotonin yang selektif adalah kemampuan terapi. Efek samping yang
dapat terjadi akibat pemberian fluexetine adalah nausea, disfunfsiseksual,
nyeri kepala, dan mulut kering. Toleransi SSRI yang relative baik
disebabkanoleh karena sifat selektivitasnya. Obat SSRI tidak banyak
berinteraksi dengan resep torneuro transmitter lainnya. Penelitian awal dengan
metode pengamatan kasus serialterhadap 8 subjek. Tindakan terapi ditujukan
untuk mengatasi gejala-gejala disruptif,dan dimulai dengan fluexetine dosis 10
mg/hari dengan pengamatan. Perbaikan palingnyata dijumpai pada gangguan obsesif
dan gejal cemas.
DAFTAR
PUSTAKA
Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis
psikiatri. Tangerang : Binarupa aksara publisher
