Selasa, 05 April 2016

PENYAKIT PSIKOLOGIS



GANGGUAN OBESIF – KOMPULSIF

Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder OCD) adalah gangguan kecemasan yang ditandai oleh pikiran-pikiran obsesif yang persisten dan disertai tindakan kompulsif. Kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannyatersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya.
Penderita mengetahui bahwa perbuatan dan pikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi ia tidak dapat menghilangkannya dan juga ia juga tidak mengerti mengapa ia mempunyai dorongan yang begitu kuat untuk berbuat dan berpikir demikian. Bila tidak menurutinya, maka akan timbul kecemasan yang hebat.

Gangguan Obsesif-kompulsif membutuhkan adanya obsesi atau kompulsiyang  merupakan  sumber gangguan atau kerusakan yang signifikan dan bukan karenagangguan mental lainnya. Gannguan Obsesif-kompulsif diklasifikasikan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR) sebagai gangguan kecemasan.

Obsesi adalah hal yang mengganggu, berulang, ide-ide yang tidak diinginkan,pikiran, atau impuls yang sulit untuk diberhentikan meskipun mengganggu alam sadar mereka. Kompulsi merupakan perilaku yang dilakukan berulang, baik yang dapatdiamati ataupun secara mental, yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh obsesi. Beberapa penelitian besar menemukan bahwa obsesi yang tersering adalah pikirang tentang kontaminasi, dan kompulsi tersering adalah tindakan“memeriksa” sesuatu. Namun, sebagian besar individu dengan gangguan ini memiliki
multipel obsesi dan kompulsi dari waktu ke waktu.

EPIDEMIOLOGI
      
      Setelah diyakini langka, gangguan Obsesif-kompulsif memiliki prevalensiseumur hidup sebesar 2,5% dalam studi ECA ( Epidemiological Catchment Area).Perkiraan terbaru tentang prevalensi seumur hidup umumnya berada pada kisaran 1,7-4%. Penelitian ECA menemukan bahwa gangguan Obsesif-kompulsif adalah gangguan  kejiwaan  yang  tersering  keempat  (setelah fobia, gangguan penggunaan narkoba dan gangguan depresif mayor).
Pada beberapa pasien, gangguan ini dimulai pada masa pubertas atausebelumnya, timbulnya gangguan obsesif-kompulsif saat remaja umumnya terjadi pada laki-laki.Pasien lain dapat memiliki onset dikemudian hari, misalnya, setelahkehamilan, keguguran, atau selama proses melahirkan. Biasanya pasien dengangangguan Obsesif-kompulsif mengunjungi 3 sampai 4 dokter dan menghabiskanwaktu lebih dari 9 tahun untuk mencari pengobatan sebelum akhirnya didiagnosisdengan benar. Pasien juga mungkin merasa malu untuk mengunjungi seorang dokter,atau mungkin tidak menyadari bahwa bantuan tersedia, dalam satu survei, sehingga jeda waktu dari onset gejala menuju ke diagnosis yang benar adalah 17 tahun

PSIKOLOGIS
         
   Gangguan Obsesif-kompulsif menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas
tertentu yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut. Ini disebut “thought-action fusion
” (fusi pikiran dan tindakan). Fusi antara pikiran dan tindakan ini dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih-lebihan yang menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa kanak-kanak, dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat.



FAKTOR PSIKOSOSIAL

                Gangguan obsesif-kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam perkembangannya. Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi pada gangguan obsesif-kompulsif. Represiperasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut. Mekanisme pertahanan psikologis mungkinmemegang peranan pada beberapa manifestasi gangguan obsesif- kompulsi. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.

DIAGNOSIS
           
 Diagnosis gangguan Obsesif-kompulsif didasarkan pada gambaran klinisnya.Tidak seperti pasien psikotik, pasien dengan gangguan Obsesif-kompulsif biasanyamenunjukkan wawasan dan menyadari bahwa perilaku mereka tidak normal atau tidak logis.
            Sebagai bagian dari kriteria diagnostik untuk Gangguan Obsesif Kompulsif,
 Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision
 (DSM-IV-TR) memberikan kemudahan bagi para klinisi untuk mendiagnosis gangguan Obsesif-kompulsif pada pasien yang umumnya tidak sadar akan obsesi berlebihan dan kompulsinya
            Kriteria obsesi menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,Fourth Edition, Text Revision(DSM-IV-TR) harus memenuhi 4 kriteria dibawah ini :

·         Pikiran berulang dan terus-menerus, impuls, atau gambaran yang dialami dibeberapa waktu selama gangguan yang bersifat mengganggu dan tidak sesua idan menyebabkan kecemasan dan penderitaan. Orang dengan gangguan  ini menyadari kualitas patologis dari pikiran-pikiran yang tidak diinginkan ini(seperti ketakutan untuk menyakiti anak-anak mereka) dan tidak akan terjadipada mereka, tetapi pikiran ini sangat mengganggu dan sulit untuk berdiskusi dengan orang lain.
·    Pikiran, impuls, atau gambar tidak hanya kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan nyata.
·         Pasien mencoba untuk menekan atau mengabaikan pikiran seperti itu atauuntuk menetralisirnya dengan beberapa pemikiran lain atau tindakan.
·         Orang tersebut mengakui bahwa pikiran obsesional, impuls, atau gambaran adalah produk dari pikiran sendiri (tidak dipaksakan dari luar, seperti dalam  penyisipan pikiran).

GEJALA KLINIS
           
 Gejala dari Obsesif-kompulsif ditandai dengan pengulangan pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
·         Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
·         Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga,namun tidak berhasil.
·         Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya.
·         Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.
 

Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah :

·         Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home,kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan).
·         Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, gangliabasalis dan singulum.
·         Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi - Riwayat gangguan kecemasan - Depresi – Individu  yang  mengalami  gangguan  seksual.


PENANGANAN

PSIKOTERAPI

            Penanganan psikoterapi untuk gangguan Obsesif-kompulsif umumnyadiberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Psikoterapi suportif  jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien gangguan obsesif  - kompulsif  yang walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial.
Tujuan psikoterapi adalah :
·         Menguatkan daya tahan mental yang ada
·         Mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan kontrol diri
·         Mengembalikan keseimbangan adaptif 
Cara-cara psikoterapi suportif antara lain sebagai berikut:

·         Ventilasi atau (psiko) kataris
·         Persuasi atau bujukan
·         Sugesti
·         Penjaminan kembali (reassurance)
·         Bimbingan dan penyuluhan.
·         Terapi kerja.
·         Hipno-terapi dan narkoterapi.
·         Psikoterapi kelompok 
·         Terapi perilaku





PSIKOFARMAKOLOGI
            Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor 
(SSRI) bekerja terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya:fluoxetine) pada transporter ambilan kembali yang spesifik, sehinggga tidak ada lagi
neurotransmitter serotonin yang dapat berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. Pengguanaan SelectiveSerotonin Reuptake Inhibitor 
(SSRI) terutama ditujukan untuk memperbaiki perilakustereotipi , perilaku melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin,dan ritual obsesif dengan ansietas yang tinggi. Salah satu alasan utama pemilihan obat-obat penghambat reuptake serotonin yang selektif adalah kemampuan terapi. Efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian fluexetine adalah nausea, disfunfsiseksual, nyeri kepala, dan mulut kering. Toleransi SSRI yang relative baik disebabkanoleh karena sifat selektivitasnya. Obat SSRI tidak banyak berinteraksi dengan resep torneuro transmitter lainnya. Penelitian awal dengan metode pengamatan kasus serialterhadap 8 subjek. Tindakan terapi ditujukan untuk mengatasi gejala-gejala disruptif,dan dimulai dengan fluexetine dosis 10 mg/hari dengan pengamatan. Perbaikan palingnyata dijumpai pada gangguan obsesif dan gejal cemas.



DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis psikiatri. Tangerang : Binarupa aksara publisher

Tidak ada komentar:

Posting Komentar