PENGANTAR KREATIVITAS & KEBERBAKATAN
“Kreativitas Menggambar Anak Kebutuhan Khusus Mental
Retardasi”
1PA07
Aldo Septian (10514767)
Febriani
Amisesa Hadi (14514116)
Depy
Nurmalasari (12514727)
Luxman
Hasan Basri (16514205)
Universitas
Gunadarma
Fakultas
Psikologi
2014/2015
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah
SWT, karena atas limpahan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan
kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Manusia istimewa yang
seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang seluruh ucapannya adalah
kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan.
Terimakasih kami ucapkan kepada Kepala SLB
C Angkasa serta guru dan siswa-siswanya dan terimakasih juga kepada Kepala SMPN
2 Bojong Gede serta guru dan siswa-siswanya. Tidak lupa ucapan terimakasih juga
kami sampaikan kepada dosen kreatifitas dan keberbakatan kami yang telah
memberikan sejuta ilmu yang baru kepada kami, dan tidak lupa juga terimakasih
kepada rekan-rekan yang sudah membantu atas selesainya tugas makalah ini
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.
Depok,
1 Agustus 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Bakat
adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dikembangkan secara
maksimal. Setiap manusia terlahir dengan memiliki bakat tertentu. Bakat adalah
sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan
untuk membangkitkan dan mengembangkannya seperti halnya bakat, kreativitas yang
dimiliki oleh seseorang juga anugrah yang harus dipergunakan secara tepat sasaran.
Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat, juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.
Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan kreatifitas dan keberbakatan diharapkan dapat memahami pengertian dan proses kreativitas dan keberbakatan peserta didik.
Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat, juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kreativitas erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kreativitas selalu berada dibelakang sebuah penemuan besar.
Peserta didik adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan kreatifitas dan keberbakatan diharapkan dapat memahami pengertian dan proses kreativitas dan keberbakatan peserta didik.
Karakteristik
spesifik anak berkebutuhan khusus pada umumnya
berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional. Karakteristik spesifik
tersebut meliputi tingkat perkembangan sensorik motor, kognitif, kemampuan
berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi social, serta
kreatifitasnya. Untuk mengetahui secara jelas tentang karakteristik pada setiap
siswa, guru terlebih dahulu melakukan skrining atau assessment agar mengetahui
secara jelas mengenai kompetensi diri peserta didik yang bersangkutan.
Assessment disini adalah kegiatan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan
setiap peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan perkembangan sosial,
pengamatan yang sensitive.
Kreativitas
dan bakat sangat dibutuhkan individu untuk bisa melewati seleksi alam. Perpaduan
keduanya juga sangat diperlukan untuk menghasilkan produk kreativitas yang bermanfaat.
Maka dari itu, kami sebagai penyusun makalah akan membuat suatu permainan yang
kami beri nama brain & brawn the
tactical game yang berhubungan erat dengan psikologis seseorang dalam
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sekaligus memberikan hiburan, permainan
ini dirancang dengan menggunakan efek-efek yang tentunya berkaitan dengan mood seseorang misalnya warna, dan
bentuk dari suatu bangun ruang.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. DASAR TEORI
Setiap orang mempunyai bakat dan
kemampuan yang berbeda-beda dan karena itu membutuhkan pendidikan yang
berbeda-beda pula. Pendidikan bertanggung jawab untuk memandu (yaitu
mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (yaitu mengembangkan dan
meningkatkan) bakat tersebut, termasuk dari mereka yang berbakat istimewa atau
memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.
Menurut Renzulli (Munandar, 2004:6)
mengungkapkan bahwa ’dulu orang biasanya mengartikan “anak berbakat” sebagai
anak yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi. Namun sekarang makin
disadari bahwa yang menentukan keberbakatan bukan hanya intelegensi
(kecerdasan) melainkan juga kreativitas dan motivasi untuk berprestasi.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak
dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan individu pada umumnya tanpa
selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk
anak berkebutuhan khusus (ABK) antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita,
tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak
dengan gangguan kesehatan, karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, ABK
memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan
dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks
bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa
isyarat.
Menurut Mulyono (2006:26) anak
berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak yang tergolong cacat atau
yang menyandang katentuan, dan juga anak lantib dan berbakat. Dalam
perkembangannya, saat ini konsep ketunaan berubah menjadi berkelainan atau luar
biasa. Ketunaan berbeda dengan konsep berkelainan. Konsep ketunaan hanya
berkaitan dengan kecacatan sedangkan konsep berkelainan atau luar biasa
mencakup anak yang menyandang ketunaan maupun yang dikaruniai keunggulan.
Kanner dalam Jamaris (2006:85) adalah
orang yang mengemukakan istilah autism, anak autis adalah anak yang mengalami
outstanding fundamental disorder, sehingga tidak mampu melakukan interaksi dengan
lingkungannya. Oleh sebab itu, anak autis bersifat menutup diri dan tidak
peduli, serta tidak memperhatikan lingkungannya (Greespan dan Wider dalam
Jamaris, 2006:85).
Anak
berkebutuhan khusus memiliki keragaman sifat, perilaku, karakteristik,dan bentuknya
yaitu:
a.
Kelompok ABK dilihat
dari aspek kecerdasan (intelegensi)
Dari aspek kecerdasan, anak
kelompok ini terdiri dari kelompok ABK berintelegensi di atas rata-rata
(supernormal) dan kelompok ABK yang berintelegensi di bawah rata-rata
(subnormal).
Ø ABK
supernormal meliputi:
·
Super cerdas/gifted
(IQ>140)
·
Sangat cerdas/full
bright (IQ 130-140)
·
Cerdas/rapid (IQ
120-130)
·
Atas normal (IQ110-120)
Ø Kelompok
ABK subnormal (tunagrahita) meliputi:
·
Bawah rata-rata/dull
normal (IQ 80-90)
·
Moron/ border line (IQ
70-80)
·
Debil (IQ 60-70)
·
Imbisil (30-60)
·
Idiot (IQ<30)
b.
Kelompok ABK dilihat
dari aspek fisik/jasmani
Dilihat dari fisik atau jasmani
kelompok anak ini dibagi menjadi beberapa kategori yaitu:
1. Tunanetra
Individu yang indera penglihatannya
(kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam
kegiatan sehari-hari seperti orang awas. Tunanetra dibagi menjadi dua yaitu:
Ø Kurang
awas (low vision), yaitu anak yang masih memiliki sisa penglihatan
sedemikian rupa sehingga masih dapat sedikit melihat atau membedakan gelap dan
terang.
Ø Buta
(blind), yaitu anak yang sudah tidak bisa atau tidak memiliki sisa penglihatan
sehingga tidak bisa membedakan gelap dan terang.
2. Tunarungu
Yaitu anak yang kehilangan seluruh
atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu
berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan
alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak tuna
rungu dapat dibagi menjadi:
· Anak
tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slight losses)
· Anak
tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30- 40 dB (mild losses)
· Anak
tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 dB(moderate loses)
· Anak
tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75 dB (severe lossses)
·
Anak tunarungu yang
kehilangan pendengaran antara 75 dB keatas (profoundly
losses)
3. Tunadaksa
Anak yang mengalami kelainan atau
cacat yang menatap pada alat gerak (tulang,sendi,otot) sedemikian rupa sehingga
memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunadaksa dibagi menjadi dua kategori
yaitu:
Ø Tunadaksa
orthopedic(orthopedicallyhandicapped)
yaitu mereka yang mengalami kelainan kecacatan tertentu sehingga menyebabkan
terganggunya fungsi tubuh.
Ø Tunadaksa
syaraf (neurologically handicapped)
yaitu kelainan yang terjadi pada anggota tubuh yang disebabkan gangguan pada
urat syaraf.
c.
Anak Dengan Gangguan
Emosi dan Perilaku (Tunalaras)
Anak tunalaras adalah anak yang
mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai
dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun
masyarakat pada umumnya,sehingga merugikan dirinya maupun orang lain.
d.
Kelompok ABK dilihat
dari aspek atau jenis tertentu.
1. Autisme
Yaitu gangguan perkembangan anak
yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang
mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Anak
yang mengindap autis pada umumnya menunjukkan perilaku tidak senang
kontak mata dengan orang lain, kurang suka berteman, senang menyendiri dan
asyik dengan dirinya sendiri.
2. Hiperaktif
Istilah hiperaktif berasal dari
kata hiper yang berarti kuat, tinggi, lebih, sedangkan kata aktif berarti gerak
atau aktifitas jasmani. Dengan demikian hiperaktif berarti anak yang memiliki
gerak jasmani yang lebih atau melebihi teman-teman seusianya. Bisa juga dikatakan
anak yang memiliki gejala-gejala perilaku yang melebihi kapasitas anak-anak
yang normal. Misalnya: tidak dapat duduk dengan waktu yang relatif cukup,
senang berpindah-pindah tempat duduk saat kegiatan belajar berlangsung.
3. Anak
berkesulitan belajar
Anak yang secara nyata mengalami
kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan
membaca,menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor
disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor intelegensi
(intelegensinya normal bahkan ada yang diatas normal), sehingga memerlukan
pelayanan pendidikan khusus.
B. FAKTOR PENYEBAB ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS
Anak
berkebutuhan khusus terjadi karena adanya faktor-faktor tertentu yang menjadi
penyebabnya. Faktor-faktor penyebab itu menurut kejadiannya dapat dibedakan
menjadi tiga peristiwa yaitu:
a.
Kejadian sebelum lahir
(prenatal)
Faktor penyebab keturunan pada masa
pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang
anak dalam kandungan. Keturunan yang terjadi pada ABK yang terjadi sebelum masa
kelahiran dapat disebabkan antara lain oleh hal- hal sebagai berikut:
· Virus
Liptospirosis (air kencing tikus), yang menyerang ibu yang sedang hamil. Jika
virus ini merembet pada janin yang sedang dikandungnya melalui placenta maka
ada kemungkinan anak mengalami kelainan
· Virus
maternal rubella (campak jerman, retrolanta
fibroplasia (RLF)) yang menyerang pada ibu hamil dan janin yang
dikandungnya terdapat kemunngkinan akan timbul kecacatan pada bayi yang lahir.
· Keracunan
darah (toxaenia) pada ibu-ibu yang sedang hamil sehingga janin tidak dapat
memperoleh oksigen secara maksimal, sehingga saraf-saraf di otak mengalami
gangguan.
· Faktor
rhesus (Rh) anoxia prenatal, kekurangan oksigen pada calon bayi di kandungan
yang terjadi karena ada gangguan/infeksi pada placenta.
· Penggunaan
obat-obatan kontrasepsi yang salah pemakaiannya sehingga jiwanya menjadi
goncang, tertekan yang secara langsung dapat berimbas pada bayi dalam perut.
·
Percobaan abortus yang
gagal, sehingga janin yang dikandungnya tidak dapat berkembang secara wajar.
b.
Kejadian pada saat
kelahiran
Keturunan yang terjadi pada saat
kelahiran dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
· Proses
kelahiran yang menggunakan tang verlossing (dengan bantuan tang). Cara ini
dapat menyebabkan brain injury (luka
pada otak) sehingga pertumbuhan otak kurang dapat berkembang secara optimal.
· Proses
kelahiran bayi yang terlalu lama sehingga mengakibatkan bayi kekurangan
zat asam/oksigen. Hal ini dapat
menggangu pertumbuhan sel-sel di otak. Keadaan bayi yang lahir dalam keadaan
tercekik oleh ari –ari ibunya sehingga bayi tidak dapat secara leluasa untuk
bernafas yang pada akhirnya bisa menyebabkan gangguan pada otak.
·
Kelahiran bayi pada
posisi sungsang sehingga bayi tidak dapat memperoleh oksigen cukup yang akhirnya dapat mengganggu perkembangan sel di
otak.
c.
Kejadian setelah
kelahiran
Keturunan pada ABK dapat diperoleh
setelah kelahiran pula karena faktor- faktor penyebab seperti berikut ini:
· Penyakit
radang selaput otak(meningitis) dan radang otak(enchepalitis)sehingga
menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan sel-sel otak menjadi terganggu.
· Terjadi
incident(kecelakaan) yang melukai kepala dan menekan otak bagian dalam.
· Stress
berat dan gangguan kejiwaaan lainnya.
· Penyakit
panas tinggi dan kejang – kejang(stuip), radang telinga(otitis media), malaria
tropicana yang dapat berpengaruh terhadap kondisi badan.
C. BENTUK-BENTUK LAYANAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
ABK memiliki
tingkat kekhususan yang amat beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi
maupun kebutuhannya, oleh karena itu layanan pendidikannya tidak dapat dibuat
tunggal atau seragam melainkan menyesuaikan diri dengan tingkat keberagaman
karakteristik dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan pendidikan tersebut,
dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orang tuanya untuk memilih layanan
pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Ada beberapa
model atau bentuk pelayanan pendidikan bagi ABK yang ditawarkan mulai dari yang
model klasik sampai yang model terkini.
a. Model
segregasi
Merupakan
model layanan pendidikan yang sudah lama dikenal dan diterapkan pada anak-anak
berkebutuhan khusus di Indonesia. Model ini mencoba memberikan layanan
pendidikan secara khusus dan terpisah dari kelompok jenis anak normal maupun
anak berkebutuhan khusus lainnya. Dalam praktiknya, masing-masing kelompok anak
dengan jenis kekhususan yang sama dididik pada lembaga pendidikan yang melayani
sesuai dengan kekhususannya tersebut. Sebagai contoh: SLB A, lembaga pendidikan
untuk anak tunanetra, SLB B lembaga pendidikan untuk anak tunarungu, SLB C lembaga
pendidikan untuk anak tuna grahita, SLB D lembaga pendidikan untuk anak tuna
daksa, SLB E lembaga pendidikan untuk anak tuna laras dan SLB G untuk tuna
ganda.
b. Model
kelas khusus
Sesuai
dengan namanya, kelas khusus tidak berdiri sendiri seperti halnya sekolah
khusus(SLB), melainkan keberadaanya ada di sekolah umum atau reguler.
Keberadaan kelas khusus ini tidak bersifat permanen, melainkan didasarkan pada
ada atau tidaknya anak-anak yang memerlukan pendidikan atau pembelajaran khusus
di sekolah tersebut.
c. Model
sekolah dasar luar biasa (SDLB)
SDLB
keberadaannya mirip dengan SLB yaitu sekolah yang diperuntukkan dan untuk
menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis
dan tingkat kekhususan yang dialaminya. Mereka belajar di kelas masing-masing
yang disesuaikan dengan jenis kekhususannya, akan tetapi mereka bersosialisasi
secara bersama-sama dalam satu naungan sekolah.
d. Model
guru kunjung
Model
guru kunjung dapat diterapkan untuk melayani pendidikan bagi ABK terutama
mereka yang ada atau bermukin di daerah terpencil, daerah perairan, daerah
kepulauan atau tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh layanan pendidikan
khusus yang telah ada, misalnya SLB, SDLB, kelas khusus dan sebagainya. Di
tempat tersebut dibentuk sanggar atau kelompok-kelompok belajar tempat anak-anak
memperoleh layanan pendidikan.
e. Sekolah
terpadu
Sekolah
ini pada hakikatnya merupakan sekolah normal biasa yang telah ditetapkan untuk
menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama-sama dengan
anak-anak normal lainnya tanpa dipisah dinding tembok kelas. Dalam pembelajaran
di sekolah mereka diajar oleh guru-guru umum, sedangkan materi-materi yang
memiliki sifat kekhususan diberikan oleh guru pendamping yang telah ditunjuk.
f. Pendidikan
Inklusi (inclusive education)
Kata
inklusi bermakna terbuka, yang berarti bahwa pendidikan yang bersifat terbuka
bagi siapa saja yang mau masuk sekolah baik dari kalangan anak normal maupun
anak berkebutuhan khusus. Demikian pula lingkungan pendidikan yang termasuk
ruang kelas, toilet, halaman bermain, laboratorium dan lain-lain harus
dimodifikasi dan dapat diakses oleh semua anak, termasuk anak berkebutuhan
khusus
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. METODE PENELITIAN
Penelitian
yang dilakukan adalah melihat/meneliti kreativitas dan bakat pada anak usia smp
yang normal dan anak usia smp yang berkebutuhan khusus. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara anak menuangkan kreativitasnya dengan
cara menggambar, tentu saja dari kecil kita sudah diajarkan untuk menggambar
ada yang terus menerus berlatih agar bakatnya semakin terlihat ada juga yang
tidak peduli dengan menggambar dan memiliki bakat lain.
Ada pula tentang
kreativitas, setiap orang tentu memiliki kreativitas berbeda-beda, perbedaan
itu dapat dilihat dari umur, jenjang sekolah, dll. Tak hanya perbedaan dari
usia, kreativitas ada anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak normal. Anak
berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis
dan karakteristiknya, yang membedakan dari anak-anak normal pada umumnya.
B. LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Penelitian
ini dilakukan di SMPN 2 Bojong Gede di Jln. Raya Citayam Komplek Atsiri Permai
dan SLB C AngkasaJln. Rajawali Raya Halim, Jakarta Timur.
Subjek dalam
penelitian adalah 20 anak SMPN 2 Bojong Gede dan 20 anak SLB C Angkasa, dari
masing-masing 20 anak tersebut dibagi menjadi 10 anak perempuan dan 10 anak
laki-laki yang rata-rata berumur 14-15 tahun.
C. PROSEDUR PENELITIAN
Penelitian ini
dilakukan dengan cara memberikan kertas gambar, crayon, pensil dan penghapus,
lalu memberikan aba-aba kepada para murid untuk dapat memulai menggambar apa
saja yang mereka inginkan dengan waktu 5 menit.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab
IV ini adalah merupakan laporan hasil penelitian tentang perbandingan
menggambar bermakna
anak normal usia sekolah SMP dengan anak berkebutuhan khusus usia sekolah SMP
(tunagrahita). Pada bab ini peneliti akan menyajikan tentang hasil penelitian
yang diperoleh, yang telah disusun sebelumnya dan pengamatan langsung sebagai
metode penelitian utama untuk mendeskripsikan dan membahas data yang telah
diperoleh.
Anak normal pada
usia sekolah SMP rata-rata menggambar lebih banyak pemandangan alam, tokoh
kartun yang mereka suka dan ada juga yang menggambar rumah serta lebih
variatif. Tapi anak dengan berkebutuhan khusus seperti tuna grahita usia
sekolah SMP lebih banyak menggambar orang dan tidak variatif, mereka seperti
mencoba menggambar dirinya sendiri dan seolah-olah orang yang ada digambarnya
itu adalah dirinya.
Persentase dari
hasil yang kita peroleh yaitu anak
normal lebih bervariatif dan imajinatif dalam
kreativitas menggambar berbeda dengan anak berkebutuhan
khusus mereka lebih banyak menggambar orang dan banyak yang menggambar tidak jelas dan gambar
anak normal cenderung rapih dibanding anak berkebutuhan khusus. Anak normal dapat
menggambarkan dikertas langsung tidak banyak berpikir dahulu. Berikut adalah presentase menggambar anak normal dan anak
berkebutuhan khusus
Salah
satu gambar dari anak normal usia sekolah SMP
Salah
satu gambar anak berkebutuhan khusus (tuna grahita) usia sekolah SMP
BAB
V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Anak
dengan kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami
kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam
proses pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya
sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2. Faktor-faktor
penyebab itu menurut kejadiannya dapat dibedakan menjadi tiga peristiwa yaitu
kejadian sebelum lahir (prenatal), kejadian pada saat kelahiran dan kejadian
setelah kelahiran.
3. Model
atau bentuk pelayanan pendidikan bagi ABK diantaranya adalah Model segregasi,
Model kelas khusus, model sekolah dasar luar biasa(SDLB), model guru kunjung,
sekolah terpadu, dan pendidikan Inklusi (inclusive
education).
4. Anak
berkebutuhan khusus cenderung memiliki cara berpikir yang bervariatif mereka
lebih berfokus pada satu titik dan untuk menjalankannya mereka sangat serius
tidak main-main, yang kita tahu biasanya anak smp apalagi anak jaman sekarang
ini untuk mengembangkan bakatnya perlu mood dahulu lalu bisa menjalankan dengan
baik dan yang mereka pikirkan itu-itu saja.
5. Anak
normal maupun anak berkebutuhan khusus sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang
semestinya kita sayangi dan kita perhatikan dan tidak boleh ada diskriminasi
diantara satu dengan lainnya. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.
DAFTAR
PUSTAKA
Efendi, Mohammad. 2000. PENGANTAR PSIKOPEDAGOGIK ANAK BERKELAINAN.
Jakarta: Bumi Aksara
Ilun Mualifah, Ahmad Fauzi, dkk. 2008. PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK. Surabaya:
LAPIS
Diane E. Papalia, Ruth Duskin Feldman.
2014. Menyelami Perkembangan Manusia.
Jakarta: Salemba Humanika







Tidak ada komentar:
Posting Komentar